Posted by Devil Inside under
Complicated love [2] Comments
Jauh jarak yang terpisah bukanlah suatu alasan untuk membutakan mata hati kita untuk saling menyapa, ketika mata tak dapat bertatap, pula bukanlah alasan kita harus berpisah. Jika kita tahu bahwa langit kita tetaplah sama, dalam naungannya kita bersua.
Bukanlah raga yang bersinggungan, namun jiwalah yang bergelora, restuilah mereka untuk menyatu dalam tautan asmara yang bersenandung mesra, lirih, namun riuh. Jika kita tahu bahwa langit kita tetaplah sama, dalam naungannya kita bersua.
Tak satu purnamapun terlewat, untuk kita dapat berjumpa, dan jika masa itu tiba, akankah kau tetap sama, secerah langit tanpa mendung, menyinari dan mewarnai jalan yang kita tempuh bersama, bergandengan dalam kasih nan mesra. Jika kita tahu bahwa langit kita tetaplah sama, dalam naungannya kita bersua.
Posted by Devil Inside under
Complicated love [3] Comments
Ku susun kembali kekuatanku, kukumpulkan dan kuhimpun untuk dapat merangkak naik dari jurang yang dalam ini, dengan seutas tali harap ku raih kembali cahaya yang berkilau diatas sana, bersama asa yang menanti, dengan keindahan hatinya ku kembali bangkit.
Lama sudah ku terpuruk, terjerembab di jurang yang hitam, gelap dan tak bertuan, jiwa ini berontak dan memaki, mengharapkan semilir angin yang menyejukan, berharap asa itu tetap ada, dengan keindahan hatinya ku kembali bangkit.
Berkuasa dan merajalah ia di setiap nafas yang ku hembuskan, di setiap langkah yang kujalani, berkuasalah dan merajalah, kan ku buka pintu yang selama ini terkunci akan arti cinta, bukan hanya aksara yang terucap, namun rasa yang terpendam begitu dalam. Dengan keindahan hatinya ku kembali bangkit.
Posted by Devil Inside under
Complicated love [3] Comments
Adakah dia datang bersama cahaya? Dengan keindahan hati yang terbalut kasih. Ataukah ia hadir, beriringan dengan mendung yang menggelayut menggelapkan mata? Hanya asa yang tertinggal, yang kan menjawab tanya, seiring tautan rasa tak bertuan, yang kan menggiringku dalam jurang kehancuran.
Namun tangan lembut tak berdosa, telah menghalangi jalanku pada kehancuran, belaian cinta yang ditawarkannya, membawakan kedamaian hakiki yang sempat hilang, adakah dia datang atas nama cinta?
Hangat tubuhnya mendekapku erat, dalam buaian kasih asmara, menentramkan jiwa, menghayutkan raga yang haus akan cinta, berkuasa akan jiwa yang rentan, hancur dan lelah. Diakah yang membasuh peluh rinduku?
Tajam matanya memandang dalam menembus hatiku, mencari jawab akan arti cinta tak bertepi, menusuk telak ke dalam jantungku, meracuniku dengan mantra-mantra cinta, yang tak kan ku berkuasa menahannya, membunuhku perlahan dalam ketidaksadaranku, mengantarku dalam kedamaian.
Merajalah ia atas ragaku, berpasrah, melepaskan semua dahaga jiwa yang terbendung, yang terpuaskan akan belaian kasih. berkuasalah dan merajalah atas diriku, wahai kau yang terindah.
Posted by Devil Inside under
Common Life [2] Comments
Wah… akhirnya, ku harus berjalan sendirian sekarang, tapi bagiku sudah biasa, tak ada yang aneh.
Tapi emang sich, kadang ku merasa kesepian, namanya juga sendirian. Btw hari Jumat malam akhirnya ku ditugaskan di bandung, semoga bisa sekalian refreshing, dah lama aku gak keluar kota, siapa tau juga aku bisa dapat pengalaman yang berharga disana. Kalo ada waktu aku sebenernya pengen sekalian ke Bogor, napak tilas mencari sekolahku yang dulu.
Wah keliatannya bakalan seru nich perjalananku, aku punya waktu 2 hari untuk refreshing, setelah itu baru mulai kerja, capek sich, tapi paling gak dah agak segar. Pokoknya Bandung, here I come :p