July 2008


Seuntai harap terucap
Oleh bibir yang tak layak berujar
Seuntai rindu terpaku
Menatap biru indah-Mu

Terkesima akan keelokan-Nya
Menyenandungkan kidung kedamaian
Pun ketentraman dalam jiwa
Adakah Ia menyambut kembali
Raga yang t’lah lama membantah

Kasih tak berujung
Cinta tak bertepi
Mengalir lembut membasuh jiwa
Yang rindu akan kasih-Mu

Tuhanku…
Aku bersimpuh
Menengadah dan memohon
Nur-Mu menerangi jalanku

Terbanglah merpatiku…
Ditemani sang bayu yang mengiringi setiap kepakan sayapmu
Sangkar emas yang tlah ku bangun untukmu
Tak seindah kebebasan yang kan kau dapatkan diluar sana
Songsonglah indahnya dunia
Kejarlah kebebasan yang kau idamkan
Dan kau kan mengerti arti dari ini semua

Terbanglah merpatiku..
Tak perlu kau kembali
Pun berpaling padaku
Karena kabahagiaan semua yang kan kau dapatkan

Lihatlah luasnya dunia wahai merpatiku
Menarilah dalam keindahan pelangi
Kejarlah mimpi yang telah terbeli
Doaku menyertaimu…
Merpatiku

Image takken from: http://www.photochart.com

Seraut wajah lelah tergambar jelas diwajahmu. “Istirahatlah”, ujarku, “Tak kuasakah kau berhenti?Apa yang kau cari dengan ini semua?”, kembali ku bertanya. Dengan nafas terengah dan suara yang lemah, dia menjawab “Adakah mentari beristirahat barang sejenak, ketika bumi masih membutuhkannya Anakku?Daksa ini telah lelah, namun kecerianmu memberinya tenaga, seolah jiwaku yang tak pernah lelah, untuk mencintaimu selamanya.”
Dedicated to: I wish I can dedicate this for him…. I wish…

Mengapa mendung itu tak kunjung sirna?
Mengapa angin tak dapat mengusirnya?
Kuasa apakah yang dapat menghapusnya?
Bukanlah aku….., bukan aku…..
Ketika semua kata yang ku bisikkan
Tak sedikitpun menggoyahkannya
Ia tetap bergelayut
Menutup cahaya yang seharusnya bersinar cerah.

Siapa pulalah aku?
Kuasa apa yang meraja didiriku?
Mengangkat diriku tinggi
Untuk dapat mengenyahkannya.

Tapi aku ingin merasakan cahaya itu
Aku ingin berada dalam kehangatan cahaya itu
Lalu……?
Diam….
Ya…. hanya diam…..
Terpaku….
Ku hanya bisa diam dan terpaku
Ketika mendung itu tetap menutup cahayaku

Dengarkanlah bisikan sang bayu yang membawa pesanku padamu, wahai kau kekasihku
Tidakkah kau dengarkan irama yang menggodamu untuk mengikuti alunannya
Ataukah telah kau tutup matamu akan keelokan yang kutawarkan
Kuberikan tanganku untuk menjagamu, kuserahkan ragaku untuk melindungimu, pun kupersembahkan jiwaku, hanya untukmu, wahai kau kekasih jiwaku
Dan ijinkanlah hatiku bertaut dalam kehangatan kasihmu hingga ku labuhkan hidupku di dermaga hatimu yang tak ternoda.