Maafkan aku peri kecilku, ketika ku tak sanggup memelukmu.
Maafkan aku peri kecilku, ketika ku tak sanggup menatap matamu.
Bukan salahmu ku pergi darimu, tak satupun karenamu,
Namun semua karena egoku,
Maafkan aku….

Tak pantaslah aku menerima maaf darimu,
atas apa yang telah ku lakukan padamu,
sungguh tak pantaslah aku merindumu,
namun rasa ini tak kuasa menahannya.

Lepaskanlah aku peri kecilku,
aku hanyalah kerikil tajam,
yang kan menyakitimu dan menghadang langkahmu,
berlalilah dan jangan kau hiraukan aku,
maafkan aku……

T’lah ku lepas raganya tuk meninggalkanku,
tak ku sesali apa yang t’lah terjadi,
karena bukan apa yang terlihat yang ‘kan menjadikannya ada,
namun apa yang terasa yang kan menghadirkan dirinya.

Tergambar jelas dalam benakku,
kehadirannya yang selalu menghiburku,
menghidupkan kembali hariku yang sepi,
dan menjadikanku kembali ada.

Tak perlu kau titipkan cinta itu,
karena itu bukan hanya milikmu,
Maafkan aku……
Cintaku…….
namun rasa itu tak kan pernah berlalu

Maaf, ku telah menyakitimu
Ku telah kecewakanmu
Bahkan ku sia – siakan hidupku,
dan kubawa kau s’perti diriku
Walau hati ini t’rus menangis
Menahan kesakitan ini
Tapi ku lakukan semua demi cinta
Akhirnya juga harus ku relakan kehilangan cinta sejatiku
Segalanya t’lah ku berikan
Juga semua kekuranganku
Jika memang ini yang terbaik
Untuk diriku dan dirinya
Kan ku t’rima semua demi cinta
Jujur, aku tak kuasa, saat terakhir ku genggam tanganmu
Namun yang pasti terjadi, kita mungkin tak bersama lagi
Bila nanti esok hari
Ku temukan dirimu bahagia
Ijinkan aku titipkan kisah cinta kita selamanya

Seuntai harap terucap
Oleh bibir yang tak layak berujar
Seuntai rindu terpaku
Menatap biru indah-Mu

Terkesima akan keelokan-Nya
Menyenandungkan kidung kedamaian
Pun ketentraman dalam jiwa
Adakah Ia menyambut kembali
Raga yang t’lah lama membantah

Kasih tak berujung
Cinta tak bertepi
Mengalir lembut membasuh jiwa
Yang rindu akan kasih-Mu

Tuhanku…
Aku bersimpuh
Menengadah dan memohon
Nur-Mu menerangi jalanku

Terbanglah merpatiku…
Ditemani sang bayu yang mengiringi setiap kepakan sayapmu
Sangkar emas yang tlah ku bangun untukmu
Tak seindah kebebasan yang kan kau dapatkan diluar sana
Songsonglah indahnya dunia
Kejarlah kebebasan yang kau idamkan
Dan kau kan mengerti arti dari ini semua

Terbanglah merpatiku..
Tak perlu kau kembali
Pun berpaling padaku
Karena kabahagiaan semua yang kan kau dapatkan

Lihatlah luasnya dunia wahai merpatiku
Menarilah dalam keindahan pelangi
Kejarlah mimpi yang telah terbeli
Doaku menyertaimu…
Merpatiku

Image takken from: http://www.photochart.com

Seraut wajah lelah tergambar jelas diwajahmu. “Istirahatlah”, ujarku, “Tak kuasakah kau berhenti?Apa yang kau cari dengan ini semua?”, kembali ku bertanya. Dengan nafas terengah dan suara yang lemah, dia menjawab “Adakah mentari beristirahat barang sejenak, ketika bumi masih membutuhkannya Anakku?Daksa ini telah lelah, namun kecerianmu memberinya tenaga, seolah jiwaku yang tak pernah lelah, untuk mencintaimu selamanya.”
Dedicated to: I wish I can dedicate this for him…. I wish…

Mengapa mendung itu tak kunjung sirna?
Mengapa angin tak dapat mengusirnya?
Kuasa apakah yang dapat menghapusnya?
Bukanlah aku….., bukan aku…..
Ketika semua kata yang ku bisikkan
Tak sedikitpun menggoyahkannya
Ia tetap bergelayut
Menutup cahaya yang seharusnya bersinar cerah.

Siapa pulalah aku?
Kuasa apa yang meraja didiriku?
Mengangkat diriku tinggi
Untuk dapat mengenyahkannya.

Tapi aku ingin merasakan cahaya itu
Aku ingin berada dalam kehangatan cahaya itu
Lalu……?
Diam….
Ya…. hanya diam…..
Terpaku….
Ku hanya bisa diam dan terpaku
Ketika mendung itu tetap menutup cahayaku

Dengarkanlah bisikan sang bayu yang membawa pesanku padamu, wahai kau kekasihku
Tidakkah kau dengarkan irama yang menggodamu untuk mengikuti alunannya
Ataukah telah kau tutup matamu akan keelokan yang kutawarkan
Kuberikan tanganku untuk menjagamu, kuserahkan ragaku untuk melindungimu, pun kupersembahkan jiwaku, hanya untukmu, wahai kau kekasih jiwaku
Dan ijinkanlah hatiku bertaut dalam kehangatan kasihmu hingga ku labuhkan hidupku di dermaga hatimu yang tak ternoda.

Woi…. aku masih manusia…., aku masih butuh kasih sayang kalian, aku masih butuh bimbingan kalian, tapi kalian pergi, seolah aku hanya seonggok daging yang tak berarti dimata kalian. Banyak alasan yang kalian utarakan untuk meninggalkanku, sadarkah kalian betapa mentahnya aku menghadapi semua ini??Betapa limbungnya aku ketika harus memilih yang baik dan buruk??

Setiap alasan yang kalian lontarkan, hanyalah untuk lari dari masalah kalian yang tidak bisa kalian selesaikan. Lalu kalian anggap aku ini??Cukup dewasakah aku menghadapi semua ini??Banyak kesalahan yang telah ku pilih, begitu tersesatnya aku ketika kalian mencampakkanku, begitu pedihnya perasaan ini, ketika ku harus menghadapi kenyataan bahwa aku harus sendiri, aku harus bangkit dengan kedua kakiku sendiri, yang masih sangatlah rapuh.

Kalian tahu, betapa hilangnya aku ditengah hutan belantara yang penuh dengan tipu muslihat dan kekejaman yang menghadang setiap langkahku??Ketika ku harus berhadapan dengan egoku, apa yang bisa ku lakukan??Ketika ku harus bermusuhan dengan ambisiku, apa yang mencegahku masuk dalam jurang kehancuran??TIDAK ADA!!!!!

Bagaimanapun juga, terima kasih atas ketidakpedulian kalian, yang menempaku sedemikian keras, sehingga ku semakin hancur. Terima kasih

Image taken from http://purpledoll.hautetfort.com

Gak tau napa, tapi hari ini aku pengen nulis surat, yang kira2 isinya gini:

My letterApa kabar cintaku, mengapa mendung menggelayut di raut wajahmu, menutup keelokan yang seharusnya terpancar daripadamu.
Ijinkanlah aku masuk ke dalam relung hatimu yang kelabu, untuk menghapuskan galau yang menyelimuti kalbumu, agar senyum manismu, kembali tersungging di bibir tipismu.

Tak lelahkah kau bersembunyi, dibalik palsunya keceriaan yang kau suguhkan, untuk menutup luka yang telah kau tanggung seorang diri, dalam kesepian dan kegalauan.
Bukalah sedikit pintu hatimu, ijinkanlah aku berada didalam hatimu, menyembuhkan luka yang telah terlanjur dalam menyakitimu, bukan untuk menambahkan luka baru.

Dengarkanlah suara hatimu yang telah berteriak padamu wahai cintaku, memekikkan keperihan yang teramat sangat, meminta jiwa yang tulus, untuk mengobati ia yang terluka.

Cintaku…, tak’kan lelah ku berusaha, untuk tetap berada di sampingmu, mendampingimu, dan memberikanmu tumpuan selama yang kau butuhkan, walau terkadang sakitpun menyerangku, namun aku akan selalu bahagia selama senyum itu terus hadir bersamamu.
Tak kuinginkan sedikitpun dalam hatiku untuk meninggalkanmu, walau hanya sekejap mata, ketika cinta ini telah bertahta, tepat didalam relung hatiku, untuk selalu memujamu, karena kau adalah cintaku…..

Yogyakart, 23 Juni 2008
Dedicated to: Nameless

Picture takken from: http://www.coolchaser.com

« Previous PageNext Page »